Nightmare Revolver — Bab 10
Bab 10

一═デ︻
Benang-Benang Kehangatan

Cahaya pagi mengalir lembut menembus jendela-jendela tinggi kelas X-2, menangkap butir debu yang menari perlahan di udara. Meja-meja tersisa sedikit berantakan oleh riuh diskusi sebelumnya—coretan setengah jadi dan catatan yang terlupakan tersebar di atasnya. Ruangan dipenuhi dengungan rendah, bukan obrolan kosong seperti biasanya, melainkan bisik-bisik rahasia yang sedang dirajut dengan hati-hati.

Di pusat perhatian duduk Catherina Luvlierre, ketua kelas mereka. Suaranya tegas namun hangat, membawa wibawa alami yang membuat teman-temannya menyimak tanpa perlu diminta. Ia sedikit condong ke depan, sorot matanya penuh keyakinan saat berbicara.

“Seperti yang sudah aku bilang sebelumnya, kita harus memberikan yang terbaik untuk besok,” ucapnya. “Shafira, Nishna, Mai—tolong siapkan dekorasinya sepulang sekolah. Amary, jangan lupa urusan musik, ya.”

“Siap, Ketuaaa—!” jawab Shafira, Nishna, dan Mai serempak—tiga siswi yang memang dikenal paling andal dalam urusan dekorasi acara.

“Serahkan pada kami,” ujar Amary tenang, sembari melirik Malson dan Bryce—dua sahabat terdekatnya, sama-sama berbakat dalam bermusik. Senyum kecil mereka cukup untuk menyingkirkan keraguan apa pun.

“Terima kasih... aku senang bisa mengandalkan kalian,” kata Catherina tulus. “Viona, Airish—hadiahnya sudah dapat? Kalau belum, nanti aku bisa bantu cari sepulang sekolah.”

“Sudah, Kate! Tenang saja,” jawab Viona dan Airish hampir bersamaan, disusul tawa ringan. “Kami cuma... belum sempat membungkusnya.”

“Tak apa,” balas Catherina tanpa ragu, senyum kecil terbit di bibirnya. “Nanti aku bantu bungkusin.”

Saat itulah Rama—yang sedari tadi mengintip lewat celah tirai jendela—tiba-tiba menoleh dengan mata membulat. “Dia datang! Lumina sudah di sini!”

Udara kelas berubah seketika—campuran antara antusias dan kepanikan kecil. Catherina segera mengangkat tangan, memberi isyarat agar semua tenang.

“Baik,” bisiknya, suaranya direndahkan namun tetap mantap. “Kita lanjutkan nanti sepulang sekolah, setelah dia pergi. Untuk sekarang—aku titipkan semuanya pada kalian.”

Dalam sekejap, kelas kembali ke keadaan semula yang terlatih—rahasia itu dilipat rapi, seolah tak pernah ada—tepat saat bunyi langkah kaki mendekat terdengar dari koridor.

Pintu geser kelas X-2 terbuka perlahan, bunyinya memecah kesunyian pagi. Di ambang pintu berdiri sosok yang sudah begitu dikenal—langkahnya ringan, membawa ketenangan yang selalu terasa setiap kali ia hadir.

Pandangan matanya menyapu kelas dengan lembut. Dengungan obrolan yang tersisa pun mereda, dan mata-mata yang sempat mengembara kini kembali tertuju padanya, seakan kehadirannya menjahit ritme pagi yang sempat terlepas.

“Lulu~!” panggil Catherina ceria, senyumnya langsung merekah saat melihatnya masuk—diikuti senyum-senyum lain yang turut menyambut.

Lumina tak menjawab dengan kata-kata, hanya dengan senyum halus dan anggukan kecil. Ia melangkah pelan menuju tempat duduknya, tepat di samping Catherina dan Airish, lalu duduk dengan tenang. Ia belum tahu apa yang baru saja terjadi, namun ia bisa merasakannya dengan jelas—kehadirannya telah mengubah udara pagi itu, meski ia belum mampu menamai alasannya.

Catherina langsung mendekat begitu Lumina duduk. “Apa kabar, Lulu? Entah kenapa, rasanya aku kangen sekali,” katanya dengan helaan napas manja, matanya berbinar hangat.

Lumina tersenyum lembut. “Hari ini terasa sedikit... berbeda dari biasanya,” jawabnya pelan, seolah masih mencari kata yang tepat.

“Oh ya?” Airish yang mendengar dari sisi lain memiringkan kepala. “Berbeda bagaimana?”

Lumina terdiam sejenak, seakan menimbang apakah kisah itu layak dibagikan. Namun akhirnya ia berbicara, suaranya lirih dengan sentuhan kegetiran yang samar.

“Dalam perjalanan ke sini... aku melihat seorang wanita tunanetra berjalan sendirian dengan tongkatnya di pinggir jalan. Ada papan reklame yang hampir mengenainya, tapi aku sempat menahannya. Kami sempat berbincang sebentar—dia berterima kasih, tersenyum, lalu melanjutkan perjalanannya. Setelah itu...” Lumina berhenti sejenak. “Aku jadi bertanya-tanya, bagaimana rasanya tak pernah bisa melihat keindahan dunia. Menjalani hidup tanpanya... selamanya.”

Kata-katanya menggantung di udara, menghadirkan keheningan kecil di antara mereka. Catherina dan Airish saling pandang.

“Lihat? Itu khas sekali dirimu, Lulu,” ujar Airish pelan. “Selalu menemukan momen-momen seperti itu.”

“Benar,” tambah Catherina dengan senyum samar. “Sepertinya hanya kamu yang bisa membawa cerita seunik itu.”

Lumina tertawa kecil, melambaikan tangan seolah menepis beban cerita. “Ah, lupakan saja... cuma pertemuan aneh pagi ini. Jangan sampai merusak suasana,” katanya, lalu menoleh pada Catherina. “Ngomong-ngomong—bagaimana hasil pemilihan OSIS?”

Catherina duduk lebih tegak, menyelipkan rambutnya ke belakang telinga. “Sayangnya aku tidak berada di posisi pertama... aku di urutan kedua, jadi ada kemungkinan aku menjadi wakil ketua. Tapi itu masih kemungkinan.”

“Wakil ketua? Itu bagus,” ujar Lumina hangat. “Yang penting, kamu sudah melakukan yang terbaik.”

Airish menyandarkan dagu di telapak tangan. “Jujur saja, menurutku kamu yang seharusnya menang. Legiandra menang karena popularitasnya di kalangan siswi L’Archen. Kalau ditanya siapa yang paling pantas, ya kamu.”

Catherina terkekeh pelan, menggeleng. “Ahaha, tidak apa-apa. Kalau aku benar-benar jadi wakil ketua, aku sudah sangat bersyukur. Terima kasih, kalian berdua.”

Belum sempat Lumina atau Airish menanggapi, suara gesekan kursi tiba-tiba terdengar dari belakang. Malson muncul dengan gitar di tangan, senyumnya nakal seperti biasa. Tanpa berkata apa-apa, ia duduk di atas salah satu meja belakang dan mulai memetik senar, memainkan beberapa nada santai yang segera menarik perhatian.

Lalu, suaranya pun melayang—ringan, jenaka, namun menyimpan nada sendu yang samar:

“Seorang putri bersemayam di menara sunyi,
 Cantiknya berkilau bagai cahaya bulan.
 Seorang pemuda memandang dengan mata tertunduk,
 Menggenggam hati—namun terikat oleh diam.”

Melodinya menggantung di udara—indah, tapi entah mengapa terasa melankolis. Ia melakukannya sekadar untuk menggoda Amary, namun kelas justru terasa lebih ringan. Tawa kecil muncul di sana-sini, dan banyak yang tersenyum, meski tak seorang pun benar-benar paham untuk siapa lagu itu ditujukan.

Amary menegang di tempat duduknya. Apa yang dilakukan bocah itu... rahangnya mengeras saat ia melirik Lumina. Kalau sampai dia tahu... ini bisa jadi masalah.

“Eh, Malson—itu tadi apa?” tanya Airish sambil tertawa kecil, matanya menyipit penuh curiga.

Malson hanya menyeringai, menurunkan gitarnya. “Tidak ada apa-apa. Cuma latihan.”

“Latihan?” Lumina memiringkan kepala, rasa ingin tahu berkilat di matanya. “Untuk apa? Hm—tak biasanya. Kamu dan—” Ia menoleh sedikit, baru menyadari dua gitar lain bersandar di dinding belakang. “Amary dan Bryce juga membawa gitar?”

Saat pandangan Lumina menyentuhnya, Amary spontan duduk lebih tegak. Tangannya kikuk merapikan lengan baju, rona tipis menjalar di wajahnya.

Catherina cepat menyela, suaranya ringan nyaris menggoda.

“Sejujurnya aku juga tidak tahu apa yang mereka rencanakan... Mungkin bertiga cuma latihan bersama. Siapa tahu untuk acara kecil.” Tawanya lembut—kata-katanya hanyalah tirai tipis, untuk mencegah Lumina mencurigai lebih jauh. Tingkah Malson memang ceroboh, namun nada santai Catherina berhasil meredamnya.

“Acara kecil?” Lumina memiringkan kepala lagi.

“Putri yang satu ini...” sela Malson sambil melirik Lumina. “Kamu benar-benar tidak menyadarinya, ya...?”

“Abaikan dia, Lulu,” potong Amary tegas, suaranya sedikit lebih keras dari biasanya. “Dia memang sering bertingkah aneh.” Ucapannya disambut tawa kelas.

Malson terkekeh, sama sekali tak tersinggung. Kehangatan di kelas itu pun kembali mengalir, semakin terang. Lumina hanya tersenyum tanpa berkata apa-apa—membiarkan canda dan tawa merajut pagi mereka dengan benang-benang hangat yang tak kasatmata.