Nightmare Revolver — Bab 11
Bab 11

一═デ︻
Tautan Masa Silam

Riuh ceria halaman sekolah perlahan memudar, tergantikan oleh suasana yang sama sekali berbeda. Di balik tawa dan obrolan para siswa, sebuah kerumunan lain terbentuk dengan cara yang lebih hening—sebuah pameran benda-benda antik yang menarik perhatian tanpa perlu suara lantang. Di dalam aula, di bawah cahaya lampu gantung yang lembut, etalase kaca berjajar rapi, seolah membentuk lorong waktu. Setiap pajangan memikul bobot sejarahnya sendiri: surat-surat yang telah menguning, peta yang robek di sudut-sudutnya, serta seragam usang yang masih seakan menyimpan aroma asap dan tanah.

Namun, senjata-senjatanyalah yang paling lama menahan pandangan. Sebuah meriam lapangan berdiri menjulang, menjadi saksi bisu perang yang telah lama berlalu—tubuh besinya penuh gurat luka, namun tetap tegak dan tak tergoyahkan. Di sisinya, senapan dan bayonet tertata dengan ketelitian nyaris khidmat. Relik-relik itu tidak hanya berbicara tentang kehancuran, tetapi juga tentang manusia-manusia yang hidup dan nasibnya pernah terikat pada benda-benda tersebut.

Di antara semuanya, satu koleksi menarik perhatian khusus: senjata api. Revolver-revolver istimewa terbaring di atas lapisan beludru, permukaannya berkilau gelap, masing-masing membawa kisah tentang bertahan hidup, kehilangan, atau kemenangan. Mereka tidak dipamerkan semata sebagai alat perang, melainkan sebagai fragmen dari zaman yang telah lewat—benda-benda yang dahulu menentukan takdir di medan tempur.

Di hadapan koleksi itulah Edward Amberlight—ayah Lumina—berhenti lebih lama. Tatapannya terpaku pada baja dingin yang terbingkai rapi, seakan senjata-senjata itu berbisik padanya dari balik puluhan tahun yang memisahkan.

Langkah Edward melambat saat ia berdiri di depan etalase revolver, perhatiannya tertarik khusus pada Enfield No. 2 dan Webley Mk. IV—dua peninggalan Perang Dunia Kedua. Seorang pemandu muda berdiri di dekatnya, menjelaskan riwayat senjata-senjata itu dengan kefasihan terlatih: tentang revolver dinas Inggris, para prajurit yang membawanya, serta medan brutal tempat mereka digunakan. Edward mendengarkan, meski yang benar-benar menahannya bukanlah kata-kata sang pemandu, melainkan kehadiran senjata itu sendiri.

“Mr. Amberlight.”

Suara itu datang dari belakang—hangat dan akrab. Edward menoleh, mendapati seorang pria dengan pembawaan tajam dan rapi: Luther, rekan lamanya dalam dunia perdagangan senjata. Meski terpaut sepuluh tahun lebih muda, Luther membawa kepercayaan diri seorang dealer berpengalaman. Selama bertahun-tahun, ia mengumpulkan pengetahuan mengejutkan tentang barang antik, dan meski bukan kolektor fanatik, ia menyimpan sejumlah kecil benda langka yang mencerminkan ketertarikannya yang tenang pada sejarah.

“Luther,” sapa Edward dengan senyum penuh pengertian.

“Sudah kuduga aku akan menemukanmu di sini,” balas Luther ringan, nada suaranya mengandung keakraban khas sahabat lama. Mereka berjabat tangan, tawa singkat mereka menyatu dengan dengung rendah aula pameran.

“Dan... bagaimana kabar putrimu, Lumina?” tanya Luther tulus. “Kalau tidak salah ingat, dia sudah SMA sekarang, bukan?”

Ekspresi Edward melunak, kilau bangga muncul di matanya. “Benar. Ia baru memasuki tahun pertamanya musim gugur lalu. Dan kini, saat musim semi datang, rasanya waktu berjalan terlalu cepat.”

Luther terkekeh. “Mereka tumbuh lebih cepat dari yang kita sadari. Robert masih di SMP, tapi bersikeras menganggap dirinya sudah dewasa.”

“Anak yang bersemangat,” balas Edward dengan senyum samar. “Semoga dia baik-baik saja.”

“Cukup baik,” jawab Luther, nada suaranya dipenuhi afeksi. “Meski para tutornya sering dibuat kewalahan.”

Setelah tawa mereda dan basa-basi terlewati, sorot mata Luther berubah, menyimpan kilau tertentu. “Soal... revolver yang dulu kau minta—yang langka itu. Aku harus mengaku, hingga kini masih belum kutemukan.” Ia berhenti sejenak, membiarkan jeda bekerja. “Namun, nasib berpihak pada kita dalam cara lain. Sebagai gantinya, aku berhasil mendapatkan sesuatu yang... lebih langka.”

Dari balik mantel hitamnya, Luther mengeluarkan ponsel dan memiringkan layarnya ke arah Edward. Terpampang sebuah foto senjata api yang belum pernah Edward lihat sebelumnya: sebuah shotgun Jerman yang luar biasa, bentuknya nyaris sempurna, tubuhnya dihiasi warna putih gading, hitam pekat, dan garis-garis emas halus.

“The White Eagle,” ucap Luther lirih, penuh hormat.

Napas Edward tertahan. Matanya menyerap gambar itu, dan sejenak dunia seolah menyempit pada satu objek berkilau tersebut. Ia pernah mendengar bisikannya—sebuah karya yang lama dianggap hilang ditelan waktu. Mungkin hanya satu atau dua yang tersisa, tak akan pernah diproduksi kembali. Dan kini, ia ada di hadapannya, seperti harta yang berhasil direbut dari masa lalu.

“Kau tahu,” ujar Luther dengan senyum setengah menggoda, “aku berani bilang putrimu pun akan mengagumi desainnya. Bukan karena dayanya, tapi karena keindahan seninya.”

Edward terkekeh pelan, kebanggaannya terbungkus kehati-hatian. “Mungkin kau benar. Lumina memang punya mata untuk keindahan—meski aku lebih suka ia tak mewarisi hobiku yang satu ini.” Suaranya melembut, seolah berbicara pada dirinya sendiri. “Dunia seorang putri tak seharusnya terikat pada pesona dingin baja dan mesiu.”

Ia menegakkan tubuhnya, rasa ingin tahu kembali menyala di matanya. “Jadi, bagaimana caramu mendapatkan benda seperti ini?”

Wajah Luther bersinar, nadanya dipenuhi kepuasan tenang. “Lewat seorang sahabat lama di Jerman. Fritz Heizenberg—barangkali namanya pernah kau dengar. Kolektor barang antik ternama, dengan ketertarikan khusus pada senjata bersejarah. Menurutnya, White Eagle ini tidak ditemukan di brankas biasa. Jejaknya menuntun ke reruntuhan—menara runtuh, bahkan benteng terlupakan yang terluka oleh perang. Ia dan timnya menyisir sisa-sisa itu, menyelamatkan apa yang masih bisa diselamatkan dari pelapukan waktu. Shotgun ini—meski sempat rusak—bertahan. Mereka memulihkannya bagian demi bagian, dengan hormat dan kekaguman, hingga kembali bersinar, layak dipamerkan dan dikenang.”

Edward terdiam, pikirannya melukiskan menara runtuh dan batu-batu perang yang tergerus usia. Fakta bahwa benda ini mampu bertahan dari beban sejarah menggetarkan sesuatu di dalam dirinya. Namun di balik kekaguman itu, muncul pula pemikiran yang dingin dan realistis: relik semacam ini tentu tak murah. Tak kurang dari lima puluh ribu lischr, pikirnya—mungkin lebih.

Akhirnya ia bertanya, suaranya terukur, “Dan... berapa harga untuk harta semacam ini?”

Senyum Luther mengembang—senyum seorang dealer, sekaligus sahabat. “Senang mendengar ketertarikanmu. Mari, ada sesuatu yang harus kau lihat.”

Dengan isyarat halus, ia menuntun Edward ke pusat aula, tempat kerumunan kecil telah berkumpul. Di tengahnya berdiri sebuah etalase kaca, berkilau di bawah cahaya, menopang sebuah senjata di atas beludru merah tua. The White Eagle—dengan baja yang dipoles dan aksen emasnya—beristirahat layaknya pusaka kerajaan.

Langkah Edward tertahan. Napasnya kembali tercekat. Matanya membelalak, dan dunia sekali lagi menyempit pada satu artefak itu saja. Setelah jeda panjang, ia hanya mampu berujar, “Kau... membawanya ke sini?”

“Aku membawanya,” jawab Luther dengan kepuasan tenang. “Aku menghubungi Fritz, dan benda itu dikirim langsung dari Jerman seminggu lalu. Pagi ini, ia tiba di rumahku.” Nada suaranya merendah, nyaris konspiratif. “Untukmu, Edward, aku akan memberikan harga rekanan. Lebih dari itu—aku akan mengurus semuanya. Dokumen hukum, izin, pengiriman. Saat ia meninggalkan tanganku, ia akan sampai padamu tanpa beban.”

Untuk sesaat, Edward tak mampu berbicara. Tawarannya lebih dari sekadar transaksi—di dalamnya ada kepercayaan, rasa hormat, bahkan sesuatu yang menyerupai kehormatan. Matanya berkilau oleh hasrat langka seorang kolektor yang tersentuh hingga ke akar. Berapa pun harganya, terasa tak lagi penting. White Eagle akan menjadi miliknya.

Akhirnya, suaranya menembus keheningan. “Namun... mengapa kau mempercayakan sesuatu yang begitu berharga padaku?”

Senyum Luther menipis, diselimuti kenangan. “Karena aku mengenalmu lebih lama dari yang kau kira. Aku tahu caramu merawat setiap benda yang kau miliki—terutama senapan tua yang oleh banyak orang diperlakukan sebagai trofi, bukan sebagai sejarah yang hidup. White Eagle tidak layak terkunci di brankas. Ia butuh penjaga. Dan padamu, Edward, aku melihat seseorang yang mampu menjaga jiwanya.”

Edward terdiam. Kata-kata itu menekan dalam-dalam. Tenggorokannya mengencang, dan ia hanya mampu menundukkan kepala sedikit, tak sepenuhnya menyembunyikan kilau di matanya.