Nightmare Revolver — Bab 9
Bab 9


Bunga di Padang Sunyi

Langkah kaki yang lembut dan teratur menggema samar di sepanjang koridor sekolah, seolah enggan mengusik dunia yang tengah berputar dalam ketenangannya sendiri. Bunyi sepatu itu segera larut dalam hiruk pagi—bisik-bisik, tawa, serta gumaman gosip para siswa yang masih dipenuhi euforia hasil pemilihan ketua OSIS yang baru. Nama-nama populer berkelip di setiap percakapan, seperti kunang-kunang yang menari di udara.

Ia melangkah bak semilir angin, menyelinap perlahan di antara para siswa tanpa menoleh ke kanan atau kiri, tanpa perubahan raut sedikit pun. Tak ada aksesori mencolok yang menghiasi dirinya, tak ada gestur berlebihan yang meminta perhatian. Namun tetap saja, jejak kehadirannya meninggalkan aroma yang khas—lembut, unik, dan sepenuhnya miliknya. Bukan wewangian yang menyengat seperti parfum mahal, melainkan aroma halus yang diam-diam melekat di ingatan.

Aula sekolah L'Archen saat pagi

Koridor yang semula riuh perlahan mereda saat ia melintas, seolah waktu sendiri berhenti sejenak untuk menyaksikan langkahnya. Pesonanya tak pernah menuntut perhatian; ia lahir secara alami dari ketenangannya, dari ketulusan caranya hadir, dan dari aura damai yang mengelilinginya. Mata-mata yang sebelumnya terpaku pada layar ponsel atau obrolan ringan kini terangkat—terhenti, terpikat oleh sesuatu yang tak terucap.

“Shh! Ratu lain lewat!”
 “Eh, itu Lumina dari X-2, kan?!”
 “Ratu lain? Seperti... Tamara?”
 “Tapi mereka tak pernah terlihat bersama.”
 “Entahlah... tapi auranya terlihat jelas.”

Koridor seolah membuka jalan dengan sendirinya. Para siswa melangkah menepi, kepala sedikit menunduk, tubuh bergeser memberi ruang—sebuah penghormatan yang lahir tanpa diminta. Lumina sendiri tetap berjalan dengan anggun dan tenang, menundukkan kepala secukupnya sebagai balasan—sopan, namun nyaris tak kentara. Ia tak menikmati sorotan itu; sebaliknya, ia menyembunyikan rasa sungkan di balik ketenangan sikapnya, seolah tak ada yang istimewa sedang terjadi. Beberapa siswa saling bertukar pandang.

“Dia pendiam... cantik... bikin segan.”
 “Seperti apa ya dia di kelasnya?”

Beberapa ponsel sempat menyala, sekadar menangkap siluetnya sekali lagi, sementara bisik-bisik mengikuti langkahnya bagai gema lembut. Lorong itu berdengung pelan oleh rasa ingin tahu, setiap gerak kecil mempertegas rasa hormat yang hadir secara alami—bahkan tanpa sepatah kata pun.

Para siswa kelas X-2 bergegas menoleh ke arah jendela, ingin menangkap sekilas sosok yang tengah melintas. Ada yang setengah bangkit dari kursinya, ada pula yang hanya memiringkan kepala, mata mereka berkilat oleh antisipasi. Ruang kelas pun terdiam, seperti napas yang tertahan sebelum tirai sebuah pertunjukan besar dibuka.

Nama itu—Lumina Amberlice—selalu beredar di bibir mereka. Di kelas, di koridor, bahkan di obrolan grup daring, namanya berkilau seperti cahaya fajar yang tak kunjung pudar. Kehadirannya tetap terasa, bahkan di dalam keheningan.

Itu bukan nama yang ia bangun sendiri, melainkan nama yang dunia sematkan padanya. Ia tak pernah mengejar perhatian, tak pernah meninggikan suara untuk menuntut pengakuan. Berbeda dengan mereka yang mendambakan sorotan, ketenaran Lumina lahir dari sesuatu yang lebih senyap, lebih halus. Dari kecantikan yang hadir tanpa hiasan, dari sikap yang memancarkan keanggunan yang tulus dan bersahaja. Lebih dari rupa, ada keteguhan dalam dirinya—kedewasaan berpikir dan kelembutan jiwa—yang membuatnya tampak berbeda, terasa ideal.

Keberadaannya di kelas X-2 sendiri sudah menjadi bukti kecerdasannya, sebuah penegasan sunyi atas hasil ujian penempatan yang ia lewati tanpa kesulitan. Namun kepintaran itu tak pernah membuatnya berjarak. Ia selalu berbicara dengan lembut pada siapa pun yang mendekat, tak pernah tajam, tak pernah ceroboh memilih kata. Lambat laun, bisik-bisik tentang dirinya menyebar—bukan karena ulahnya, melainkan karena kekaguman. Bahkan para atlet favorit sekolah, entah terang-terangan atau diam-diam, turut terpesona olehnya. Sedikit demi sedikit, tanpa usaha, namanya menjalin diri ke dalam keseharian L’Archen, hingga Lumina Amberlice dikenal oleh semua.

Ia bukan sekadar cantik. Ia adalah perwujudan dari namanya sendiri—Lumina, cahaya. Kulitnya pucat bersih, lembut, seolah tak tersentuh bahkan oleh sinar matahari paling halus. Rambut pirang keemasannya yang panjang, terikat rapi, memberi kesan anggun yang terjaga. Tak ada perhiasan menghiasi pergelangan tangannya, tak pula riasan berlebihan menyentuh wajah lembutnya—namun ia tetap bersinar. Beberapa siswa asal Jepang kerap menyebutnya 暁光の女神 (Gyōkō no Megami)—Dewi Cahaya Fajar.

Setiap langkahnya seakan melukiskan ketenangan di lantai koridor. Posturnya tegap namun rendah hati, bahunya terangkat bukan oleh kesombongan, melainkan oleh keanggunan. Matanya—jernih dan bercahaya—menyimpan kelembutan yang jarang ditemui pada usia sepertinya.

Meski tertutup, Lumina tak pernah terasa dingin. Ia dikenal cerdas dan mudah bergaul, mampu berbincang dengan siapa pun tanpa membuat lawan bicara merasa kecil. Ia kerap menawarkan bantuan pada teman-teman yang kesulitan pelajaran, dan banyak siswi menemukan tempat bersandar dalam dirinya saat dilanda gelisah atau sedih. Namun tetap ada sesuatu yang menggantung di sekelilingnya—jarak tak kasatmata, seperti kabut tipis antara dirinya dan dunia—lembut, tapi tak bisa ditembus.

Bagi para siswa laki-laki di L’Archen, Lumina adalah sosok ideal. Banyak yang mengaguminya dalam diam, namun tak seorang pun benar-benar berani mendekat, apalagi menyatakan perasaan. Mendekati Lumina menuntut lebih dari sekadar keberanian—ia memerlukan rasa hormat yang tak semua orang sanggup memikulnya. Ia bukan sosok yang sulit dicintai, namun juga bukan yang mudah digapai.

Anehnya, Lumina sendiri tampak sama sekali tak menyadari pengaruh senyap yang ia miliki atas orang-orang di sekitarnya. Ia tak pernah memamerkan kecemerlangannya, tak pernah membanggakan prestasi. Setiap kali dipuji atau disanjung, ia hanya tersenyum dan mengalihkan pembicaraan ke hal-hal yang lebih ringan, lebih hangat, lebih sederhana.

Mungkin itulah sebabnya kehadirannya selalu dirindukan. Baik dalam pertemuan kecil maupun sore santai di taman belakang sekolah, kedatangannya seolah melengkapi suasana. Tanpanya, udara terasa ganjil—seperti ada bagian yang belum utuh.

Pernah ada bisik-bisik yang menyebut bahwa ia pantas berdiri sejajar dengan para Ratu L’Archen—meski tak sedikit yang diam-diam tak setuju. Gelar itu, seagung apa pun, terasa kurang tepat baginya. Ya, ia memang indah—sangat indah—namun pesonanya tak lahir dari eksklusivitas atau singgasana. Ia hangat pada semua orang, mudah didekati namun tetap sulit disentuh.

Ia laksana cahaya musim semi—lembut, singkat, dan selalu terasa sedikit di luar jangkauan. Seuntai bunga yang mekar di padang sunyi, tak memerlukan panggung untuk menarik perhatian. Namun kehadirannya saja sudah mampu mengubah udara di sekitarnya. Dan karena itu, tak seorang pun benar-benar sepakat menyebutnya sekadar ratu lain dari L’Archen. Sebagian besar lebih memilih memanggilnya—Dewi L’Archen.