Nightmare Revolver — Bab 8
Bab 8

一═デ︻
Pertukaran yang Berdaulat

Tak lama kemudian, sisa-sisa keramaian di luar kelas X-1 perlahan mereda—seperti riak air yang kembali tenang di bawah hembusan angin pagi. Percakapan merendah serempak saat para siswi menoleh, satu per satu, lalu tanpa aba-aba memberi jalan. Seolah-olah, dengan naluri yang sama, mereka tahu siapa yang sedang mendekat.

Tiga siswi melangkah anggun menyusuri koridor utama—tenang, terjaga, dan memancarkan wibawa. Di tengah, Tamara berjalan memimpin, rambut cokelat kastanyenya tersanggul rapi, disinari cahaya matahari yang menyelinap dari jendela-jendela tinggi. Di sisi kirinya Allura, lembut dan elegan; di sisi kanannya Kiyara, pendiam dan serius—kehadirannya sunyi, namun sama-sama eksklusif.

Langkah mereka mantap—tak tergesa, namun penuh tujuan—mengalir selaras dengan denyut akademi.

Dari bangkunya, Elvareth menyikut Legiandra sambil menyeringai. “Lihat siapa yang datang.”

Diarumi menimpali santai, meski matanya tak lepas dari ketiganya. “Para Ratu L’Archen.”

Benar saja—ketiganya membawa serta hembusan wangi yang halus, kehadiran yang begitu tiba-tiba hingga terasa menguras udara ruangan. Satu lirikan cukup—Damien dan Arva limbung seketika, hidung mereka mendadak mimisan saat panik menutup wajah, tak berdaya menghadapi pesona yang terlalu kuat. Lloyd, sebaliknya, hanya mengangkat pandang sekejap—lalu kembali ke bukunya, ketenangannya tak terusik sedikit pun, seakan pemandangan itu tak lebih dari lalu-lintas biasa.

Yang lain membeku, mulut setengah terbuka, seolah tak percaya bahwa pesona Legiandra mampu “memanggil” bukan satu, melainkan ketiga ratu akademi sekaligus. Seakan semesta sendiri memberi hormat.

Namun Legiandra tetap tenang. Ia berdiri perlahan—mantap, terukur, berwibawa. Tatapannya bertemu dengan mereka, teduh dan jernih; senyum kecilnya menyimpan salam tanpa suara—sebuah penghormatan yang tak perlu diumumkan.

Tamara berhenti beberapa langkah dari mejanya. Senyumnya rapi dan tulus, tanpa dibuat-buat. Ia mengangguk halus sebelum berbicara—suaranya jernih, lembut, membawa ketulusan yang sulit diragukan.

“Selamat atas terpilihnya Anda sebagai Ketua OSIS,” ucapnya, tenang namun bergaung, seakan menenangkan udara di sekitarnya. “Sungguh, tak ada kandidat lain yang lebih pantas memikul gelar itu.”

Allura dan Kiyara mengangguk serempak, diam mereka adalah bahasa penghormatan. Terkadang, kehadiran saja sudah cukup.

“Terima kasih,” balas Legiandra dengan tenang. Senyumnya hangat—kecil, namun cukup menggerakkan hening di antara mereka. Tatapannya menahan Tamara sekejap lebih lama, membawa pengakuan yang melampaui sopan santun—sebuah salam setara, tanpa perlu kata.

“Aku sering mendengar tentang para Ratu L’Archen,” lanjutnya. “Tak sulit memahami mengapa banyak yang mengagumi kalian. Kehadiran kalian tertib dengan sendirinya. Kuharap kita bisa menjaga sekolah ini bersama—mungkin bimbingan kalian akan sangat berarti.”

Astaga... Allura tercekat dalam hati. Tak kusangka ia akan berkata sejauh itu. Sebuah pujian yang matang—jernih, dan penuh pertimbangan.

Elvareth dan Diarumi mengamati dalam diam—irama tutur Tamara dan Legiandra, caranya saling menyapa dengan hormat dan kendali. Pertemuan itu terasa seperti dua kerajaan yang bernegosiasi: setiap kata, setiap gerak, menjaga keseimbangan.

“Dia benar-benar ratu,” bisik Elvareth.

“Shh,” Diarumi terkekeh pelan sambil memberi isyarat. “Jangan rusak momennya.”

Tamara memiringkan kepala sedikit, senyum lembut menghiasi bibirnya. “Kami akan memastikan, Tuan Ketua.” Pipinya merona samar, namun sikapnya tetap terjaga. Bersama kedua sahabatnya, ia berbalik dan meninggalkan ruangan—langkah mereka tetap anggun, menyembunyikan gejolak perasaan di balik martabat.

“Gila...” gumam Damien, menyandarkan punggungnya. “Bahkan Tamara datang padanya...”

Arva bersiul pelan. “Cantik, ya. Bukan—mereka semua.”

“Tamara siapa?” suara Lloyd menyela tiba-tiba, datar seperti biasa.

Damien dan Arva menoleh bersamaan, nyaris ternganga.

“Apa—kamu serius?” Damien terbata. “Kamu... nggak tahu dia? Mereka? Para Ratu L’Archen?”

“Tidak,” jawab Lloyd sambil membalik halaman. “Oh, jadi begitu sebutannya?” Ia mengerling singkat. “Tapi... kenapa?”

Arva menatapnya tak percaya. “Kamu nggak merasakan auranya?”

“Aura ratu?” Lloyd memiringkan kepala, berpikir sejenak. “Hm. Nggak juga. Mereka terlihat... biasa saja. Sama seperti siswi lain.”

“Apa?!” Arva hampir meloncat.

Damien mengerang, mengusap wajah. “Huft... sudahlah. Kamu memang tak tertolong, Lloyd.”

Pintu menutup pelan. Keheningan kembali mengambil alih kelas. Hanya gema langkah yang memudar dan sisa aroma parfum yang tertinggal.

Sekali lagi... Legiandra tinggal bersama sunyi.

Ia duduk kembali, pandangannya tertambat pada pintu—kini hanya bingkai cahaya, tanpa siapa pun di baliknya.

“...Kupikir dia akan datang,” gumamnya.

Alis Elvareth terangkat, bertukar pandang singkat dengan Diarumi. “Hm? Maksudmu... Tamara?”

“Bukan mereka.” Suara Legiandra pelan, namun pasti.

Kepastian itu membuat keduanya terdiam. Elvareth menggaruk tengkuk, berpura-pura santai. “Huh... kupikir kalian cukup dekat.”

Legiandra hanya mengangkat bahu. Tak ada nama. Tak ada penjelasan. Hanya hening—seperti tirai yang sengaja ditarik menutup sesuatu.

“Mungkin dia belum dengar kabarnya,” ujar Diarumi lembut, menyelipkan harapan di antara kecewa yang mulai terasa.

Elvareth berbisik lirih, “Dia siapa?” Diarumi menjawab dengan senyum kecil—tanpa kata.

“Kau benar... Kalau dia tahu, aku yakin dia pasti datang,” kata Legiandra. Senyumnya terbit samar—hampir ada—namun meredup sebelum mencapai mata.

Elvareth condong ke depan, memaksakan tawa. “Kalau begitu... kita intip kelasnya saat istirahat?”

“Tak perlu. Aku akan pergi sendiri.” Pandangan Legiandra melayang ke jendela, jauh, seolah mencari bayang yang tak terlihat. “...Ada sesuatu yang harus kusampaikan padanya—sebelum hari serah terima jabatan tiba.”