Nightmare Revolver — Bab 7
Bab 7


Taman Persembahan Kecil

Sementara itu, tepat di luar kelas X-1, sebuah pemandangan tak biasa mulai terbentuk—mula-mula tenang, nyaris tak mencolok, lalu perlahan menarik perhatian siapa pun yang melintas di koridor. Barisan siswi dari berbagai kelas berdiri rapi di sepanjang lorong, tersusun seperti bunga-bunga yang ditata dengan penuh kehati-hatian. Di tangan mereka, tergenggam bingkisan kecil berhias pita, boneka mungil, hingga amplop berwarna pastel—semuanya jelas disiapkan dengan perasaan yang tulus. Mata mereka berbinar malu-malu, bisik-bisik berdesir pelan, dan kegembiraan berkilau tepat di balik suara yang ditahan.

“Aduh... nanti pas ketemu dia, aku harus ngomong apa ya?” bisik seorang siswi sambil memutar pita pada bungkus hadiahnya dengan gugup. “Kalau cuma bilang ‘selamat’, rasanya... biasa banget.”

Siswi lain memeluk amplopnya lebih erat. “Kira-kira... aneh nggak sih kalau aku minta tanda tangannya?”

Yang ketiga menutup mulut dengan kedua tangan, setengah tertawa, setengah panik. “Tanda tangan? Aku aja mungkin bakal gugup sampai nggak bisa ngomong apa-apa!”

Percakapan gugup itu naik-turun seperti desir daun tertiup angin musim semi—manis sekaligus riuh. Mereka datang dengan satu tujuan: mendapatkan sekejap momen bersama Legiandra Kaelthorn, betapapun singkatnya, dan meninggalkan persembahan kecil mereka di depan pintu kelas X-1.

Sejak pengumuman hasil pemilihan OSIS, nama itu seolah memiliki gravitasi tersendiri—menarik perhatian dengan mudah, seperti bintang pada matahari. Tampan, cerdas, dan memiliki wibawa yang tenang, kini ia resmi menjabat sebagai Ketua OSIS L’Archen. Pesonanya menyebar lebih cepat dari kabar pagi; bahkan teman-teman sekelasnya sendiri mulai kewalahan menghadapi arus perhatian yang terus mengalir.

Ketenangan khas kelas X-1 pun lenyap pagi itu. Tawa berdenting di tempat yang biasanya sunyi; aroma manisan terbungkus rapi bercampur dengan wangi bunga segar; bisikan nama “Legiandra” melayang-layang di udara.

“Apa-apaan ini...?!” seru Damien begitu melangkah masuk, terkejut melihat kerumunan wajah asing memenuhi ruang yang biasanya hening di jam-jam awal.

“Yah, kamu memang nggak tahu rasanya jadi cowok paling dipuja seantero sekolah,” sahut Arva santai, menyandar di kursinya seperti penonton di teater pribadi. “Lihat mereka... kayak parade bunga musim semi, mekar barengan.”

“Dia lagi, dia lagi,” gerutu Damien sambil mengeklikkan lidahnya kesal sebelum menjatuhkan diri ke kursi. Ia memalingkan wajah dari keramaian, rahangnya mengeras, seolah berharap semua itu menghilang. Namun jauh di balik tatapannya, tersimpan rasa iri yang tajam dan tak terbantahkan.

Damien menghembuskan napas lewat hidung, lalu menoleh setengah badan. Pandangannya tertuju ke bangku belakang, tempat Lloyd duduk seperti biasa—punggung tegak, postur tenang, sebuah buku terbuka di hadapannya, seakan menjadi perisai dari kekacauan sekitar.

“Seriusan, ini nggak ganggu kamu sama sekali?” tanya Damien, nadanya pendek, seolah berharap ada sekutu.

Tanpa mengangkat pandangan dari halaman bukunya, Lloyd menjawab dengan suara setenang jarum jam yang berdetak. “Tidak.”

Damien berkedip. Ia mendekat sedikit. “Jadi... menurut kamu ini... nggak mengganggu sedikitpun?”

Akhirnya, Lloyd melirik ke atas—sekilas saja—wajahnya tetap sulit dibaca. “Karena ini tidak ada hubungannya denganku,” katanya tenang. “Bising hanyalah bising—kecuali kalau kau membiarkannya masuk.”

Ia kembali menunduk, membalik halaman, seolah topik itu telah selesai dan lenyap begitu saja.

Kesal, Damien menatapnya lama—salah satu sahabat terdekatnya selain Arva, namun tetap saja terasa seperti teka-teki. Bibirnya terbuka hendak membantah, lalu mengatup kembali. Akhirnya ia mendengus. “Tch... aku nggak akan pernah paham sama kamu.”

Arva terkekeh rendah, senyumnya menyebalkan seperti biasa. “Jelas nggak. Orang kayak Lloyd mah nggak bakal peduli meski langit runtuh, selama bukunya masih utuh. Dia hidup di dunianya sendiri—kebisingan ini nggak bakal nyentuh dia.”

Mendengar itu, sudut bibir Lloyd terangkat sedikit—sangat tipis, nyaris tak terlihat. Ia tak menanggapi, dan dalam diam itulah jawabannya tersimpan.

Di pusat keramaian, Legiandra duduk di mejanya dengan ketenangan yang tak tergoyahkan, dikelilingi para pengagum yang menatapnya dengan mata berbinar. Senyum lembut terukir di wajahnya saat ia menandatangani sebuah buku catatan berwarna merah muda yang disodorkan tangan gemetar, disambut decak kegirangan dan sorot mata penuh cahaya.

“Legiandra, boleh tolong tanda tanganin ini...?” pinta seorang siswi sambil mengulurkan hadiah berbalut pita lilac.

“Aku juga! Tolong ya! Ini buat kotak kenanganku!” seru yang lain, melonjak kecil agar lebih dulu terlihat.

“Tenang saja,” jawab Legiandra, suaranya rendah dan ramah, posturnya santai namun tetap berwibawa. Ia menyilangkan kaki dengan anggun. “Aku akan menandatangani semuanya—satu per satu. Tidak perlu khawatir.”

“Tch... sok banget,” gumam Damien dari kejauhan, nada irinya masih terselip meski dibalut kekaguman enggan.

Arva mendengus geli. “Mereka ada di telapak tangannya. Kalau dia nunjuk lima orang sekaligus, mungkin langsung pingsan. Sementara kita? Dipandang dua detik aja nggak.”

Damien memutar bola mata, menatap tumpukan hadiah yang kian menggunung di meja Legiandra. “Ya sudah... kita cuma figuran.”

Namun tawa Arva berikutnya terdengar lebih pelan—nyaris reflektif. “Iya... tapi aneh juga, ya. Kayaknya dia nggak benar-benar menikmati semua ini.”

Damien terdiam sejenak. Tatapannya mengarah ke pintu, lalu membesar. “Eh—tunggu... itu...?”

Arva mengikuti arah pandangnya, lalu tersenyum lebar. “Wah, Frio juga datang rupanya. Kupikir dia bukan tipe yang begini.” Ia menyikut Damien ringan. “Kayaknya dia lebih suka yang lain, ya?”

“Heh—diam!” bentak Damien cepat, wajahnya menghangat saat ia memalingkan muka. Kenapa kamu ada di sini, Frio? Kenapa ikut mereka...?

Meski jam belum menunjukkan pukul setengah tujuh lewat tiga puluh, koridor telah hidup oleh tawa ringan, sapaan hangat, dan langkah-langkah penuh harap. Setiap siswi yang masuk membawa secercah impian, dan setiap yang pergi melangkah dengan pipi merona serta hati yang diam-diam penuh.

Dalam hitungan menit, meja Legiandra berubah menjadi sebuah taman kecil—kantong hadiah berpita, surat tulisan tangan di kertas halus, bunga kering, dan boneka mungil—ditata dengan kelembutan rasa kagum yang tulus.

Namun di balik setiap senyum dan pujian yang tak putus, pandangan Legiandra tak pernah benar-benar lepas dari arah pintu. Setiap gagang yang berputar membuat dadanya mengencang—bukan menanti pengagum berikutnya, melainkan satu wajah yang ia harapkan. Satu kehadiran yang menyingkirkan semuanya.

Namun ia tak datang.

Perlahan, kerumunan menipis. Para siswi berpamitan, membawa kenangan kecil dan harapan yang disimpan rapi. Ruangan kembali sunyi, menyisakan gema langkah menjauh dan wangi parfum yang menggantung samar.

Akhirnya, Legiandra menyandarkan tubuh ke kursinya, membiarkan keheningan menekan bahunya. Ia menghela napas—bukan karena lelah, melainkan karena sesuatu yang lebih halus.

Di sisi kanannya, Elvareth bersandar pada meja, tangan terlipat, menatapnya dalam diam. Di sisi kiri, Diarumi duduk membungkuk, dagu bertumpu pada tangan, sorot matanya lembut namun penuh tanya. Mereka saling berpandangan—sekilas, tapi cukup. Tanpa kata.

Mereka tahu, sahabat mereka sedang menunggu seseorang—nama yang tak pernah ia ucapkan.

Dan ketika siswi terakhir melangkah pergi, meninggalkan aroma dan rasa hampa yang tak terambil, Legiandra tetap diam—napasnya pelan, wajahnya sulit dibaca. Namun dalam jeda sunyi itu, satu hal jelas: ia tidak mencari kekaguman, melainkan kehadiran. Satu jiwa. Sepasang mata tertentu di tengah keramaian.

Namun dia belum datang.
 Belum hari ini.