Nightmare Revolver — Bab 6
Bab 6

一═デ︻
Ratu-Ratu L’Archen

“Apakah itu... dia?”

Pertanyaan itu meluncur lirih, nyaris seperti embusan napas, dari bibir seorang siswi yang berdiri di dekat papan pengumuman besar di koridor utama lantai dasar. Jarinyapun terangkat, menunjuk tepat ke pusat hasil pemilihan OSIS yang baru ditempelkan—pada sebuah foto tunggal, berukuran lebih besar dari yang lain, seolah menjadi pusat perhatian di antara lembaran kertas. Sorot matanya berkilau, menyimpan kekaguman yang biasanya hanya diberikan kepada sosok bangsawan.

Di sekelilingnya, beberapa siswa berkumpul—ada yang membiarkan tas selempang menggantung longgar di bahu, ada pula yang memeluk buku-buku pelajaran seakan bersiap menghadapi jam pertama. Namun pandangan mereka sama-sama tertambat pada potret itu: seorang pemuda berseragam rapi, berdiri tegak dengan kepercayaan diri yang tenang. Senyumnya—tertata, tulus—membawa kesan seseorang yang sejak awal memang ditakdirkan untuk memimpin.

“Tentu saja itu dia! Siapa lagi yang bisa membuat orang-orang terpukau seperti ini?” sahut siswi lain, kacamatanya melorot sedikit saat pipinya merona karena antusias. Suaranya tanpa sadar meninggi, mengundang lirikan dari siswa yang melintas—yang, begitu mendengar nama itu, ikut menoleh ke papan dengan rasa ingin tahu atau iri.

“Legiandra Kaelthorn, kelas X-1,” bisik seseorang, seolah sedang menyebut nama seorang pangeran. “Tampan, cerdas... dan punya aura kepemimpinan yang jarang.”

Di luar, hari di Akademi L’Archen baru saja dimulai. Namun di balik dinding marmernya, suasana sudah dipenuhi semangat muda. Bisik-bisik berpindah dari satu siswa ke siswa lain, masing-masing melirik papan itu seakan di sana tertulis sebuah titah kerajaan.

Bagi mata awam, L’Archen Academy hanyalah institusi bergengsi—jendela-jendela tinggi dan koridor berkilau menjadi penanda kemewahan serta disiplin akademik. Namun di balik keanggunannya, tersembunyi dunia dengan tuntutan yang tak kenal kompromi. Para siswa diharapkan unggul bukan hanya dalam angka dan huruf, tetapi juga piawai menguasai bahasa—asing maupun kuno. Bahasa Inggris bersisian dengan bahasa lain—Prancis, Jepang, dan sebagainya—dalam diskusi hidup, menciptakan atmosfer yang lebih menyerupai salon diplomatik ketimbang halaman sekolah.

Pemilihan OSIS yang berlangsung sehari sebelumnya pun digelar layaknya kampanye nasional mini. Spanduk warna-warni menghiasi koridor; slogan menempel di loker dan tangga; video—ada yang serius, ada pula yang konyol—berkelebat di tablet bersama dan dinding kelas. Sebuah pesta demokrasi versi remaja, dilaksanakan dengan standar kesempurnaan mereka sendiri.

Kini, hasilnya terpampang jelas dan tak terbantahkan: nama Legiandra bertengger di posisi teratas, melampaui dua kandidat kuat lainnya—Katherine Sharaa dari X-2, sosok tajam dan kapabel dengan pembawaan lugas serta kemampuan debat yang disegani; serta Marchie Ruino dari X-5, flamboyan dan teatrikal, yang kampanyenya memikat sebagian dan membingungkan sebagian lain.

“Pelantikannya hari Jumat sore, ya?” bisik seorang siswi, suaranya setipis rahasia.

“Dua hari lagi?” sahut yang lain.

“Iya, di aula utama, setelah bel terakhir,” timpal seorang lagi, matanya berbinar membayangkan suasana.

“Enak sekali ya, jadi anak X-1,” desah seseorang, nadanya penuh angan—disambut tawa kecil yang serempak.

Namun keramaian ringan itu mendadak meredup ketika tiga siswi melangkah masuk ke koridor. Bunyi sepatu mengilap mereka beradu pelan dengan lantai marmer, dan bersama langkah itu, atmosfer pun berubah—hampir tak terasa, seperti aroma halus yang tiba-tiba menahan indera.

Mereka adalah Tamara Arvenclaire, Allura Elvas, dan Kiyara Lavoire—nama-nama yang kerap dibisikkan dengan kagum di seantero sekolah. Terlahir dalam privilese dan terdidik dalam seni bersikap, mereka membawa keanggunan alami kaum bangsawan serta pesona mengintimidasi milik mereka yang sadar betul akan kekuatan kehadirannya. Di mata teman sebaya, mereka bukan sekadar dikagumi, melainkan diagungkan. Bagi banyak orang, mereka dikenal sebagai Ratu-Ratu L’Archen.

Tamara, yang selalu berada di depan, melangkah dengan ketepatan perlahan seseorang yang terbiasa menjadi pusat perhatian. Rambutnya—jatuh bagai sutra—berayun lembut di setiap langkah terukur. Setibanya di papan pengumuman, ia berhenti, menatap foto itu layaknya seorang penikmat seni menilai lukisan yang baru ditemukan.

“Oh... ternyata dia lebih fotogenik dari yang kubayangkan,” gumam Tamara, aksen British-nya mengalir ringan, serasi seperti nada dalam simfoni yang terlatih.

Allura mendekat, merendahkan suara. “Psst... jangan bicara begitu. Kau bisa mempermalukan diri sendiri,” bisiknya, seringai tipis mengkhianati pura-pura kesalnya.

Di sisi lain, Kiyara melirik dengan tatapan menyamping, suaranya setenang sekaligus setajam bilah tipis. “Hmph. Jangan terlalu percaya diri. Dia bukan milikmu.”

Tamara hanya mengangkat satu alis, lalu menoleh anggun. “Kalau kau perlu tahu, minggu lalu dia sempat melambaikan tangan padaku di perpustakaan. Itu cukup bisa disebut pertanda, bukan?”

Allura terkekeh kecil, lembut namun menusuk. “Kalau dia melambaikan tangan ke semua orang, Tamara, itu bukan pertanda—itu sopan santun.”

Pandangan Tamara bertahan sesaat lebih lama pada foto itu, lalu ia menghela napas, melempar rambutnya ke belakang dengan gaya yang disengaja. “Apa pun itu, dia tetap tak adilnya menggemaskan. Dan aku sudah bosan mengaguminya lewat potret ini. Aku ingin melihatnya langsung.”

“Kelasnya?” alis Allura terangkat, nadanya campuran antara terkejut dan geli.

“Tentu saja,” jawab Tamara, diselingi kedipan mata lambat yang penuh maksud. “Lagipula, para ratu tidak mengagumi dari kejauhan. Mereka memanggil.”

Allura dan Kiyara saling bertukar pandang—gerakan yang terlatih, waktunya sempurna—lalu tersenyum hampir bersamaan.

“Kalau begitu,” ujar mereka nyaris serempak, “pimpin jalannya.”

Meski keduanya kerap terhibur—bahkan sesekali lelah—dengan kebiasaan Tamara berbicara seolah ia memang darah biru, tak satu pun berniat memotong sayapnya. Justru itulah bagian dari pesonanya—alasan mengapa ia berdiri alami di pucuk trio mereka. Dan sejujurnya, aura itu juga milik mereka bertiga. Ratu-Ratu L’Archen bukan sekadar sekelompok sahabat, melainkan sebuah gelar yang hidup—mewujudkan keanggunan mereka dan bisik kekaguman seluruh sekolah.