Nightmare Revolver — Bab 5
Bab 5

一═デ︻
Tarian Gelombang Otak

Di dalam ruang sunyi Laboratorium Hypnexis, satu-satunya suara yang terdengar hanyalah dengung mesin yang stabil dan denting logam halus dari instrumen medis. Monitor-monitor berpendar biru pucat, memandikan wajah para peneliti dan teknisi dengan cahaya asing—mereka duduk berjajar rapi, waspada, tanpa sepatah kata pun.

Di sisi kanan ruangan, seorang pria terbaring di atas ranjang uji. Telinga kanannya terpasang sebuah perangkat kecil—Dreem—yang kini telah disempurnakan dengan teknologi nano oneirokinetik terbaru: Sapna Herphera 101-TR, sebagaimana tercatat pada setumpuk dokumen yang digenggam Berkin.

Malam ini bukanlah uji coba biasa.

Yoshi berdiri di antara para teknisi, pandangannya terpaku pada sosok yang terbaring tak bergerak. Di bawah cahaya steril monitor, raut wajahnya menegang—setiap tarikan napas terasa seperti doa sunyi agar tak ada yang keliru. Raviel bukan sekadar subjek dalam arsip laboratorium; ia adalah sahabat, terikat oleh tahun-tahun yang melampaui dinding-dinding ini. Kini, hidup itu berada di ruang rapuh antara sains dan yang tak terjamah.

Sepuluh menit telah berlalu sejak Raviel terlelap, dan denyut aktivitas otaknya mulai menari di layar—ritme cahaya dan frekuensi yang berkelip. Detak jantungnya naik turun seperti alunan nina bobo: stabil, namun siaga. Di balik kelopak mata yang tertutup, bola matanya bergerak pelan, seolah mengejar sesuatu yang jauh dan menakjubkan—hanya terlihat di wilayah mimpi.

Tak seorang pun berani berbicara.

Sesekali, jari-jari Raviel bergetar. Pernah pula napasnya tersendat, lalu mengalir kembali—tenang dan dalam. Mereka tahu saat itu—ia sedang bermimpi. Mungkin tentang penglihatan yang belum pernah ditawarkan dunia nyata.

Beberapa teknisi tersenyum samar; para ilmuwan lain menggenggam tangan mereka, menyembunyikan getar takzim di balik ketenangan klinis. Namun Darlen— matanya tetap siaga, bergerak cepat dari monitor ke tubuh Raviel, lalu kembali. Kemenangan belum layak diklaim hingga sang pemimpi terjaga.

Di sudut ruangan, Berkin duduk santai, menyeruput kopi Kona hangat dari cangkir keramik kecil. Aroma tanah Hawai dan manis lembutnya mengambang di udara—sebuah rahasia yang tak semua orang mampu menamai. Dengan satu tangan, ia membalik halaman dokumentasi perangkat, menelusuri setiap spesifikasi dengan ketelitian seorang perajin yang meninjau karya terbaiknya.

Dari balik konsol, Franklin mencondongkan tubuh, matanya melirik pola-pola yang berubah di monitor terdekat. “Profesor... pembacaan gelombang otak ini—terlihat... tidak stabil. Apakah itu normal?”

Berkin tak segera mengangkat kepala. Ia meletakkan cangkirnya dengan hati-hati, mata masih mengikuti satu baris teks. “Sepenuhnya normal,” jawabnya akhirnya. “Itu tanda Raviel berada jauh di dalam fase mimpinya. Chip bekerja sebagaimana mestinya. Fluktuasi yang kau lihat—ledakan ritme tak beraturan itu—adalah pikiran yang sedang menjelajahi dunianya sendiri.”

Kening Franklin berkerut. “Jadi... Sapna Herphera sudah merespons medan neural?”

Sudut bibir Berkin terangkat tipis. “Ya. Ia menyelaraskan diri, beradaptasi dengan setiap denyut. Anggap saja seperti... menyetem sebuah instrumen saat musiknya sudah dimainkan.”

Mereka bertukar beberapa catatan teknis berbisik—penyesuaian kalibrasi, jeda mikrodetik, ambang beban kognitif—istilah yang bagi orang lain terdengar kering, namun di sini memuat getar penemuan.

Di pusat ruangan, Darlen berdiri dengan tangan terlipat longgar, matanya menatap aliran data yang berkelip di monitor terbesar. Tanpa menoleh, ia berbicara pada teknisi utama di sisinya. “Karlee, apa yang sedang dialami subjek kita sekarang?”

Pandangan Karlee tak beranjak dari konsol. “Ia berada di Elysnera, Tuan. Aktivitas neural mengonfirmasi imersi penuh.”

Bibir Darlen membentuk senyum samar. “Dan bisakah kita melihatnya? Tunjukkan apa yang ia saksikan.”

“Belum,” jawab Karlee sambil menggeleng pelan. “Penangkap umpan mimpi langsung masih dalam pengembangan. Kita belum bisa memvisualisasikannya secara waktu nyata.” Ia mengetuk tombol lain, memindai data. “Begitu uji coba selesai, Raviel akan langsung dipindahkan ke ruang medis. Kita lakukan diagnostik penuh, lalu debriefing tentang apa yang ia lihat dan rasakan.”

Tatapan Darlen tertahan di monitor, seakan membayangkan dunia tak terlihat di luar jangkauan. “Baik. Lanjutkan.”


Waktu bergerak berbeda di ruang itu.

Menit-menit meregang menjadi jam, diukur hanya oleh stakato lembut mesin dan riak cahaya pada layar.

Tanpa sadar, Yoshi condong ke depan, satu tangan mencengkeram tepi konsol. Setiap fluktuasi terasa seperti pukulan bagi ketenangannya. Tenggorokannya kering. Jantungnya berdebar begitu keras hingga ia bertanya-tanya apakah yang lain bisa mendengarnya.

Ya Tuhan... biarkan dia kembali pada kami, seutuhnya.

Laporan status berbisik antar teknisi, namun tak seorang pun berani memecah bobot momen. Napas Raviel stabil, namun ada kerapuhan pada getar kelopak matanya—seolah pikirannya masih bertahan di ambang terjaga.

Mata Karlee menyapu pengatur waktu, lalu aliran data. “Franklin,” panggilnya, tenang namun berbobot.

Franklin melangkah maju. “Ya, Chief?”

“Semua poin uji sudah selesai?”

Franklin melirik papan klip, lalu layar. “Semua pemeriksaan tuntas. Tak ada anomali di luar toleransi.”

Karlee mengangguk sekali, tegas. “Kalau begitu, kita akhiri sesi.”

“Siap.”

Nada suaranya menajam, presisi. “Baik, Franklin—kirim sinyal bangun.”

Perintah itu menggerakkan tim. Tombol ditekan, perintah mengalir. Di salah satu monitor samping, ikon hijau kecil menyala—konfirmasi sinyal terkirim. Sekilas, gelombang lega menyapu ruangan.

Sejenak, ruang itu seakan menahan napas. Seseorang menggeser berat badan; bunyi klik lembut terdengar dari konsol jauh. Tinggal sebentar lagi—pasti.

Namun menit-menit kembali meregang.

Untuk sesaat yang menyesakkan, tak terjadi apa-apa.

Semua mata terkunci pada tubuh Raviel. Monitor berdenyut stabil, namun ia tetap diam.

Karlee menyipitkan mata. “Franklin—status?”

Franklin memeriksa panelnya, suaranya rendah namun mantap. “Sinyal terkirim. Semua sistem normal. Kita tinggal... menunggu ia menerimanya dan terbangun.”

Karlee mengangguk perlahan, rahangnya mengeras nyaris tak terlihat.

Dada Yoshi mengencang. Ayo, Raviel... bangun...

Setitik keringat meluncur di pelipisnya. Detak jantungnya—cepat dan tak beraturan—menenggelamkan dengung mesin. Di sampingnya, rahang Darlen menegang; bahkan Franklin—yang biasanya tak terbaca—membeku.

Lalu—

Kelopak mata Raviel bergetar. Sekali. Dua kali.

Jari-jarinya bergerak, melengkung samar, seolah menggenggam sisa benang dunia tak kasatmata.

Perlahan, matanya terbuka—mula-mula keruh, tak fokus, seakan masih berdiri di ambang tempat yang sulit ditinggalkan.

Dan kemudian... kejernihan kembali.

Ia menatap sekeliling.
 Ia melihat mereka.
 Dan ia tersenyum.

Ruangan meledak oleh tepuk tangan dan sorak.

“Dia bangun!”
 “Kita berhasil!”

Darlen dan Yoshi mengembuskan napas—lega yang sunyi namun dalam—melangkah maju bersama Linda, menyambut Raviel seolah ia baru pulang dari pelayaran mulia. Tim medis menggiringnya lembut ke ruang sekunder untuk analisis lanjutan.

Yoshi berbalik pada Berkin, wajahnya berseri. Ia melintasi ruangan dengan langkah panjang dan menepuk bahu lebar pria itu. “Berkin! Kau jenius! Benar-benar luar biasa!”

Berkin tersenyum—namun tak sepenuhnya. “Ya... meski aku melihat sesuatu. Tepat sebelum ia terbangun, ada gangguan.”

“Gangguan?” Kening Yoshi berkerut. “Tapi dia baik-baik saja. Bangun. Tersenyum. Tak ada cedera.”

“Benar,” gumam Berkin, “namun aku melihatnya—sekejap disonansi. Tenang saja. Aku akan melakukan penyesuaian malam ini.”

Senyum Yoshi meredup. Kepercayaannya pada Berkin tak tergoyahkan, namun kata-kata pelan itu meninggalkan bayang di atas kemenangan mereka.

Di tempat lain, di tengah gema tepuk tangan, Darlen melangkah ke sudut yang lebih sunyi. Ia menekan nomor.

“Liem...” ucap Darlen saat sambungan terhubung, suaranya rendah, nyaris letih. “Maaf. Sepertinya... proyek ini harus berakhir.”

Keheningan berdesir di seberang—tegang seperti kawat ditarik. Lalu suara Liem terdengar, hati-hati, hampir takut. “Kenapa? Apa yang terjadi?”

Bibir Darlen melengkung—cukup untuk mengisyaratkan kebenaran—sementara pandangannya melayang ke monitor, kilau kemenangan berpendar di matanya. “Karena...” Nadanya berubah, menajam seperti mata pisau. “...unit Dreem bekerja dengan sempurna. Kita berhasil.”

Hening sekejap—lalu tawa lepas meledak dari seberang. “Kau keterlaluan, Darlen... kupikir itu kabar buruk!”

Darlen terkekeh pelan, nyaris bersekongkol. “Liem... kita akan mengubah dunia. Mulai minggu ini.”