Nightmare Revolver — Bab 4
Bab 4

一═デ︻
Kegelapan Tanpa Akhir

Pagi yang lembut memeluk Kota Leafl. Napas musim semi berkelindan di antara pepohonan, mengiringi kelopak dan dedaunan pucat yang terlepas dari ranting—melayang pelan seperti mimpi-mimpi tersesat sebelum akhirnya menyentuh bumi. Jalanan telah terjaga, dipenuhi dengung lalu lintas dan bisik kehidupan yang akrab. Namun, di tengah keramaian itu, seolah ada keheningan yang mengikuti satu sosok: seorang gadis muda yang berjalan sendirian di trotoar yang teduh.

Seragamnya rapi, rok hitam menjuntai sopan hingga betis, sementara tangan kanannya menggenggam erat tali tas selempang. Langkahnya mantap, tetapi sorot matanya kosong—seakan pikirannya mengembara jauh, melampaui lanskap kota yang terbentang di hadapannya.

Saat menyeberangi jalan yang ramai, tanpa sengaja pandangannya tertarik pada sebuah papan reklame digital menjulang di seberang persimpangan. Cahaya warnanya menyala tajam, menampilkan sebuah perangkat logam yang dikenakan di kepala seorang model.

DREEM, tertera dalam huruf tebal—seperti bisikan tentang sebuah keselamatan yang samar.

Ia tak benar-benar memahami apa itu. Dan ia pun tak ingin tahu.

Namun...

Semakin jauh ia melangkah, bayangan benda itu justru terus mengejarnya. Di halte bus, dinding gedung, layar-layar vid yang berkilau—ke mana pun ia menoleh, artefak yang sama menatap balik, ditemani janji-janji manis yang dibungkus slogan.

Di etalase sebuah toko elektronik di tepi jalan, televisi menayangkan siaran langsung. Sekelompok kecil orang berhenti menonton. Dengan rasa ingin tahu yang datar, Lumina memperlambat langkahnya, matanya tertuju pada seorang pria karismatik bersetelan abu-abu rapi yang kini memenuhi layar.

“Bayangkan sebuah dunia di mana mimpi buruk tak lagi ada,” ucap pria itu dengan senyum terlatih, mengangkat perangkat tersebut ke arah kamera. “Dunia di mana setiap malam, Anda dapat memilih mimpi apa yang ingin Anda alami. Itulah yang Dreem tawarkan—sebuah perangkat pembentuk mimpi.”

Pembentuk... mimpi?

Alis Lumina mengernyit tipis. Pikirannya beringsut menjauh. Bagaimana mungkin mimpi dapat dijinakkan? Ranah abstrak yang liar dan personal itu? Sesuatu yang begitu intim... begitu privat?

Ia tak ingin memikirkannya lebih jauh. Lumina menjauh dari kerumunan, langkahnya kembali menyatu dengan gemerisik daun yang berkumpul di bawah kakinya. Warna merah muda dan hijau berayun lembut di atas—barisan pohon bunga yang ditanam di antara menara-menara modern berlapis baja dan kaca.

Inilah Kota Leafl—tempat di mana alam dan mesin berdampingan, seperti sapuan kuas dan baja, tempat bunga-bunga mengikuti irama neon.

Dan ia pun terus berjalan—di antara kelopak dan keheningan—hingga sesuatu di seberang jalan membuat langkahnya melambat.

Di sana, di trotoar seberang, seorang perempuan muda sedang berjalan.

Ia mengenakan sweater merah dan kacamata gelap. Di tangannya, sebuah tongkat putih bergerak perlahan, meraba dunia yang tak lagi dapat ia lihat. Langkahnya ragu, seolah tanah di bawah kakinya belum sepenuhnya ia kenali. Bagi Lumina, jelas terlihat: perempuan itu buta—dan kemungkinan besar, belum lama. Setiap geraknya memancarkan kerentanan yang belum sempat mengeras menjadi kebiasaan.

Perempuan itu mendekati sebuah papan nama yang menggantung rendah di depan toko roti. Tongkatnya yang meluncur ke depan gagal mendeteksinya. Dalam sepersekian detik itu, Lumina bergegas maju dan mengangkat tangannya—tepat waktu untuk menahan kepala perempuan itu dari tepi logam.

Perempuan itu berhenti, lalu tersenyum kecil, canggung.

“Ah... apakah aku menabrak sesuatu?”

“Tidak, Bu,” jawab Lumina lembut. “Ada papan nama yang menggantung di depan Anda. Saya hanya mencegahnya agar tidak melukai Anda.”

“Oh... terima kasih. Tongkatku tidak merasakannya.”

“Tidak apa-apa. Jika Anda butuh bantuan, saya bisa menemani. Anda hendak ke mana?”

Perempuan itu terkekeh ringan. “Oh, tidak perlu. Aku hanya sedang... berlatih.”

“Berlatih?” Lumina berkedip, heran.

“Iya,” jawabnya, suaranya selembut hembusan angin gugur. “Aku baru saja... kehilangan penglihatanku.”

Keheningan singkat menyusul. Lalu, dengan kehangatan seorang ibu, ia bertanya, “Kamu seorang pelajar, ya?” Kepalanya sedikit miring, seolah mencoba ‘melihat’ Lumina melalui tirai kegelapan.

“Iya, Bu,” jawab Lumina, agak terkejut.

“Kamu murid L’Archen, bukan?”

“Y... ya, Bu,” jawab Lumina, bingung bagaimana perempuan itu bisa mengetahuinya.

“Oh, kurasa begitu...” Perempuan itu tersenyum lembut. “Ada kejernihan dalam suaramu—dan juga beban. Murid L’Archen sering membawa keduanya. Meski tak dapat melihat, aku bisa merasakan bahwa kamu bukan murid biasa.”

“Eh?” Lumina memiringkan kepala, tak yakin harus menanggapi apa.

“Karena aku tak bisa melihat,” lanjut perempuan itu tenang, dengan nada yang terasa jauh, “aku sering kali merasakan aura orang lain. Dari cara mereka berbicara, dari nada suaranya. Mungkin ini sisa dari masa laluku—sesuatu yang tertinggal, memberiku kepekaan semacam itu.”

Lumina terdiam. Ia tak tahu apakah ia mengerti, atau justru terlalu bingung untuk merespons.

Perempuan itu tertawa kecil, ringan. “Ah—lupakan saja,” katanya sambil melambaikan tangan seolah menepis pikiran itu. “Bolehkah aku tahu namamu, Nak?”

“Lumina,” jawabnya pelan.

“Lumina? Nama yang indah...” Perempuan itu tersenyum. “Aku Rachel.” Ia berhenti sejenak, lalu tertawa kecil. “Katakan padaku—apakah masih ada papan nama lain yang harus kuwaspadai di depan?”

Lumina tersentak kecil, lalu menatap ke arah jalan. “Ada beberapa,” katanya akhirnya, “tapi semuanya cukup tinggi. Anda akan aman.”

“Syukurlah,” ucap Rachel lega.

“Yakin tak ingin... saya temani?”

Rachel menggeleng pelan. “Aku harus belajar. Aku tak ingin terus bergantung pada orang lain. Tapi terima kasih, Lumina. Cara bicaramu... caramu memperlakukanku... kamu baik. Dan sangat lembut.”

“Aku senang bisa membantu,” Lumina tersenyum—senyum hangat yang terasa jauh, seperti cahaya matahari di balik kaca.

Rachel pun melanjutkan langkahnya, meninggalkan satu senyum terakhir—sebuah tanda keberanian.

Lumina memandangi sosok itu yang kian menjauh, lalu menundukkan pandangannya.

Di dalam hatinya, sebuah pertanyaan sunyi bersemi, melipat dirinya dalam keheningan pagi.

Bagaimana rasanya... hidup dalam kegelapan yang tak berujung? Tak lagi melihat langit, atau daun-daun yang gugur, atau lengkung senyum seseorang?

Dunia ini penuh keindahan—kebanyakan terlihat, bukan terucap.

Dan kesadaran bahwa tak semua orang dianugerahi kemampuan itu... membuat cahaya di dadanya terasa lebih dingin, seperti matahari yang tertutup selubung duka.