Nightmare Revolver — Bab 3
Bab 3


Sahabat Berkaki Empat

Pagi itu terendam dalam keheningan.

Hanya seberkas cahaya matahari yang merayap masuk melalui celah-celah jendela, mengguratkan garis-garis lembut di dinding kamar yang pucat dan sedikit usang—dinding yang menyimpan kesunyian duka, seolah menjadi wallpaper yang tak pernah dimaksudkan untuk dilepas.

Di atas ranjang terbaring seorang gadis, meringkuk tengkurap. Tubuhnya yang ramping terbalut selimut tebal, menutupi dirinya dari telapak kaki hingga lekuk pinggang. Wajahnya menghadap ke dinding, matanya terpaku pada sebuah foto kecil yang digenggam erat di tangannya—potret ibunya, Amina Amberlight.

Perempuan dalam foto itu tersenyum hangat, senyum yang terasa mampu menembus waktu, memeluk sang gadis dengan kasih yang tak pernah bisa dihapus oleh jarak. Sudah tiga tahun sejak ibunya pergi untuk sebuah perjalanan ke luar kota—dan tak pernah kembali. Orang-orang mengatakan itu kecelakaan tragis: sebuah tabrakan, sebuah kehilangan, sebuah akhir.

Namun gadis itu tak pernah benar-benar mempercayainya.

Di dalam hatinya, ibunya tidak meninggal. Ia hanya... belum pulang.

Lalu, sebuah suara pelan memecah kesunyian.

Seekor kucing putih berbulu tebal—seputih salju yang baru jatuh—menyelinap masuk melalui pintu yang sedikit terbuka. Langkahnya ringan, nyaris tak bersuara, seakan ia melayang alih-alih berjalan. Di lehernya terpasang kalung biru tua, dihiasi sebuah bandul kecil berwarna emas yang menangkap cahaya pagi dan berkilau lembut. Terukir di sana satu nama: Mishyels.

Tanpa ragu, kucing itu meloncat anggun ke atas ranjang. Ia memanjat punggung sang gadis dan mengeong pelan—seolah berkata, aku tidak akan membiarkanmu sendirian terlalu lama.

“Mishy?” gumam sang gadis lirih, suaranya samar, seperti ingatan yang belum sepenuhnya kembali.

Kucing itu mengeong lagi—lembut namun pasti—lalu berjalan ke sisi wajahnya dan menyapukan ujung ekornya yang halus ke pipi sang gadis. Sebuah sentuhan sunyi, seperti balsem bagi luka yang tak terlihat.

“Mishy!?” serunya, terkejut—dan tersenyum.

Senyum itu kecil, namun nyata.

Matanya bertemu dengan mata sahabat berkaki empatnya—yang satu biru, yang lain keemasan. Dua warna berbeda yang dipersatukan oleh heterokromia lembut, bagai bulan dan matahari yang berbagi langit yang sama.

“Baiklah... baiklah. Aku bangun.”

Ia meletakkan foto itu dengan hati-hati di atas meja belajarnya, mengembalikannya ke tempat penuh penghormatan di sebuah kamar yang terasa setengah sebagai perlindungan, setengah sebagai penjara. Ruangan itu luas, namun sarat oleh beratnya keheningan yang terlalu lama menetap.

Boneka beruang hadiah dari teman-teman SMP Lumina

Di salah satu sudut, sebuah boneka kucing putih duduk diam, dengan syal biru melingkar di lehernya. Ukurannya lebih besar dari Mishyels, meski kini tampak usang dan jarang disentuh. Hadiah ulang tahun dari sahabat-sahabatnya semasa SMP—kehangatannya mungkin memudar, tetapi tempatnya di hati sang gadis tidak pernah tergantikan.

Dinding kamar dicat dalam kontras tegas: putih dan hitam—berlawanan, namun serasi. Seperti dirinya sendiri, yang menggenggam kesendirian di satu tangan dan keteguhan di tangan lainnya.

Sebuah rak buku menjulang di salah satu sisi ruangan, dipenuhi deretan buku fisika dan kimia. Itulah pelindungnya—ilmu-ilmu yang ia genggam erat ketika pikirannya terlalu bising untuk ditenangkan oleh diam.

Di atas meja yang rapi terletak tas sekolah hitamnya, tertutup ritsleting dengan rapi, siap dibawa kapan saja.

Di samping lemari, seragam SMA-nya tergantung anggun—hitam, dengan lis emas di kerah dan lengan, sudah disiapkan sejak malam sebelumnya.

Dan di ujung meja, di bawah cahaya lembut lampu kecil, terbaring sebuah buku harian hitam sederhana. Sebuah stiker anak kucing putih tersenyum di sampulnya. Di bagian depan, tertulis dengan tulisan kecil yang rapi:

Lumina Amberlight.
 Nama sang gadis.


Dengan langkah enggan khas pagi hari, Lumina akhirnya turun dari ranjang dan melangkah menuju dapur. Di belakangnya, Mishyels mengikuti—hening dan anggun, tatapannya tak pernah lepas, seakan jarak sejauh satu tarikan napas pun terlalu jauh baginya.

Saat Lumina melewati koridor, pandangannya sempat melirik—hanya sekejap—ke kamar ayahnya.

Di sana, sang ayah duduk tenggelam dalam ritual yang paling ia cintai: merawat senjata api. Satu per satu ia lap dengan penuh hormat, memeluknya seolah benda-benda itu adalah artefak rapuh dari masa yang tak pernah benar-benar menjadi milik mereka. Ia kemudian mengangkat salah satunya, mengarahkannya ke ruang kosong, lalu tersenyum—bangga, absurd, seakan medan perang tak kasatmata sedang memanggil namanya.

Lumina tidak berkata apa-apa.

Ia tidak menyapa. Tidak berhenti. Langkahnya terus membawanya ke dapur, tempat ia membuka lemari kecil dan mengambil kaleng makanan kucing.

Namun langkahnya tak luput dari perhatian.

“Lumina?”

“Iya, Ayah,” jawabnya datar, tanpa menoleh.

“Tolong ambilkan kain poles logam di laci dekat ruang duduk.”

Ada jeda.

Lumina menarik napas—pendek, pelan—lalu meletakkan kaleng itu di atas meja dan berbalik. Setiap langkah menuju ruang duduk terasa berat, seolah udara sendiri menolak keberadaannya. Saat ia kembali dengan kain di tangan, posturnya tampak lebih kecil, kehadirannya seakan memudar bahkan sebelum pintu terbuka sepenuhnya.

Ruang senjata itu luas—bersih, berkilau, dan dingin. Sebuah ruangan kebanggaan dan presisi.

Dindingnya dipenuhi senapan dan revolver antik, terpajang bak mural sakral. Sebagian tersimpan di balik kaca, sebagian tergantung terbuka. Ayahnya—meski bukan tentara—memiliki izin resmi untuk menyimpan senjata-senjata itu, dan sebagian besar kenalannya adalah kolektor atau pria-pria yang berkecimpung di dunia serupa.

Di pusat ruangan berdiri koleksi paling berharga miliknya—sebuah senapan asal Jerman yang mencolok, berwarna putih, hitam, dan emas. Ia menamainya The White Eagle, dan telah menceritakan sejarahnya kepada Lumina entah sudah berapa kali. Bagi ayahnya, senjata itu adalah keindahan, kejayaan, dan warisan. Bagi Lumina, itu hanyalah kisah tanpa makna.

Ia duduk di sana, memoles senapan dengan penuh ketelatenan, matanya dipenuhi pengabdian.

Bukan kepada putri satu-satunya.

Melainkan kepada baja dingin yang berkilau di tangannya.

Tanpa berkata apa-apa, Lumina mengulurkan kain itu. Matanya—yang dulu bersinar biru cerah, seperti yang sering dipuji ibunya—kini redup, cahayanya melunak menjadi sesuatu yang nyaris menyedihkan.

Rasanya, tak ada tempat baginya di rumah ini. Ayahnya, yang tenggelam dalam berhala-berhala logamnya, jarang menoleh. Jarang mendengar. Jarang benar-benar melihatnya.

Hanya Mishyels yang membuatnya merasa hidup.

Hanya Mishyels yang memahami perih sunyi di dalam dadanya.

Ia membuka kaleng itu, melepaskan aroma lembut daging cincang halus—dipilih dengan cermat seminggu lalu di pasar. Dengan jarinya, ia mengambil sedikit dan mengulurkannya perlahan ke arah Mishyels, yang menatap dengan mata berbinar seperti bintang pagi.

“Ini... yang kamu suka,” bisiknya.

Kucing itu mengeong pelan, lalu mulai makan dengan puas dan tenang.

Memandangnya, Lumina membiarkan senyum singgah di bibirnya—senyum yang bukan lahir dari bahagia, melainkan dari kebiasaan sunyi.

Tanpa kata lain, ia berbalik dan melangkah menuju kamar mandi.

Di depan cermin, ia menggosok gigi dengan lambat, membasuh wajah dengan air dingin, lalu menatap bayangannya sendiri seakan itu milik orang lain. Kulitnya muda, lembut, dan cerah. Namun matanya... matanya kosong.

Di balik helaian rambut pirang keemasan yang lembut, ia menatap pantulannya, tersesat dalam badai tanpa kata yang tiba-tiba mengguncang dadanya.

Tak ada sebab yang jelas, tak ada alasan yang bisa ia genggam—hanya sebuah beban, berat dan menekan, seolah jiwanya sendiri tumbuh terlalu besar untuk ditampung.

Pandangan matanya terangkat ke langit-langit.

Ke cahaya.
 Ke entah apa.

“Kenapa... perasaan ini terus kembali?” pikirnya, suaranya seperti angin di dalam ruangan terkunci.

Ia melepas pakaiannya dan melangkah ke bawah pancuran. Air dingin menyentuh kulit pucatnya, mengalir dari bahu hingga mata kaki seperti seribu tangan sunyi.

Air itu tidak menyakiti.
 Tidak pula menyembuhkan.

Ia hanya ada—mengalir, seakan mencoba menenangkan luka yang bahkan tak mampu ia beri nama.

Suara air memenuhi ruangan, menelan keheningan.

Namun tak mampu menutupi retakan halus di dalam hatinya.

Ia tak tahu dari mana air mata itu datang.
 Ia hanya tahu, air mata itu jatuh.

Dan dalam jatuhnya, ia membisikkan sebuah kebenaran yang tak sanggup ia ucapkan: bahwa sesuatu di dalam dirinya... sedang retak.

Tak seorang pun—bahkan dirinya sendiri—mendengar bunyinya.