Nightmare Revolver — Bab 2
Bab 2


Simbol Mahakarya

Sebuah tawa berat menggema samar di dalam ruang berdinding kaca—sebuah suaka minimalis dengan lantai marmer yang dipoles hingga memantulkan cahaya seperti cermin. Dinding-dindingnya putih bersih, dihiasi aksen mahoni gelap; sementara di balik jendela panorama yang luas, lampu-lampu kota berkilauan bak rasi bintang gelisah, berpendar redup seolah malam itu sendiri telah lupa bagaimana caranya bermimpi.

Di kursi utama, seorang pria bersandar dengan keanggunan yang terlatih. Rambut cokelatnya disisir rapi ke samping, dan sepasang kacamata tipis bertengger di batang hidungnya—membingkai mata yang berkilat dingin, tajam oleh pikiran yang telah lama bersahabat dengan ambisi.

Darlen E. Thorne.

Sebuah nama yang bergema di lorong-lorong dunia neuroteknologi—seorang pria yang bukan sekadar memimpin Lucidia Technology and Neuro-Research (TNR) di bawah Hypnexis Labs, melainkan membayangkan, membentuk, dan menghaluskan tepian masa depan itu sendiri. Di bawah kendalinya, mesin-mesin tunduk pada kehendak tidur.

Di hadapannya duduk Liem, seorang investor yang ditempa oleh waktu dan dibentuk oleh konsekuensi. Setelan gadingnya jatuh sempurna di tubuh yang sedikit membungkuk oleh usia. Rambutnya yang dahulu hitam kini disusupi abu-abu, bagai salju lembut. Meski sikapnya tetap tenang, matanya menyimpan bobot kelelahan seseorang yang terlalu lama menatap jurang risiko.

“Apa maksudmu... hanya sebesar itu?” suara Darlen membelah ketenangan, setajam bilah yang dibungkus beludru. Ia menyesap dari cangkir porselen—uapnya melingkar perlahan ke atas, meniru intensitas sunyi dalam pikirannya. “Jika Dreem berhasil, kau bisa menjadi orang terkaya dalam sejarah mimpi itu sendiri.”

Liem terkekeh sopan—hangat nadanya, meski tatapannya tetap dingin dari kegembiraan.

“Aku berhati-hati, Darlen. Teknologi yang tampak terlalu mulus sering kali menyembunyikan kebenaran yang bergerigi di balik permukaannya.”

Darlen condong ke depan, melipat lengannya perlahan. Di belakangnya, pantulan dirinya berkilau samar pada dinding mengilap—sedikit terdistorsi, seakan kaca itu sendiri menolak menampilkan dirinya secara utuh.

“Dan itulah mengapa kami tak meninggalkan satu pun skenario tanpa jawaban. Dari yang ideal hingga yang paling tak terduga—semua telah kami ukur.”

Suaranya merendah, seolah takdir sedang mendengarkan.

“Dreem bukan sekadar perangkat. Ia adalah gaya hidup. Sebuah ambang batas. Lubang kunci menuju versi keberadaan yang belum pernah berani kita buka. Dalam satu bulan, ia akan terpajang di rak-rak lintas benua.”

Ruangan itu seakan menahan napas. Hanya dengung rendah mesin-mesin tersembunyi dan desahan dingin sistem ventilasi yang berani bersuara.

Lalu, seakan menjawab isyarat tak kasatmata, Darlen menoleh ke arah pintu.

“Linda.”

Bunyi tumit pendek menyentuh marmer memecah keheningan. Seorang perempuan bersetelan pas masuk, rambut pirangnya disematkan sempurna, tablet di tangan, tatapannya jauh sekaligus presisi—seperti seseorang yang terbiasa berdiri di titik tempat tekanan berkumpul.

“Bagaimana persiapan kampanye pemasaran?”

Linda Meisy, koordinator logistik Lucidia sekaligus tangan kanan Darlen yang selalu andal, menjawab dengan efisiensi bak mesin jam.

“Materi kampanye sudah lengkap, Tuan. Begitu unit final tiba dari laboratorium, kami langsung meluncur: menara digital, iklan skyline, banjir media sosial. Tak satu detik pun terbuang.”

Darlen mengangguk, lalu menoleh ke antarmuka saraf yang dikenakan di telinga, terpajang di atas meja kaca tipis khusus.

Perangkat Dreem yang berbentuk seperti earphone

Benda itu tampak seperti modul putih ramping yang memeluk telinga—menggabungkan bentuk akrab sebuah earbud dengan kecanggihan neuroteknologi mutakhir. Permukaannya halus dan berlekuk lembut, seolah melebur mengikuti kontur telinga, dirancang bukan sekadar untuk suara, melainkan untuk integrasi menyeluruh dengan pikiran manusia. Saat dikenakan, rasanya nyaris seperti tak ada apa pun di sana.

Sebuah punggung vertikal tipis membentang di sisinya, menyimpan mikro-sensor yang berdenyut oleh sinyal tak kasatmata—menghubungkan pikiran, ingatan, dan presisi buatan dalam harmoni sempurna, ditandai cahaya indikator samar yang membisikkan kesiapan dan statusnya. Meski berukuran ringkas, Dreem memikul janji revolusioner: membuka lapisan terdalam pikiran, menuntun kesadaran melampaui keseharian—sementara beristirahat lembut di sisi telinga.

Ia bukan sekadar perangkat, melainkan ciptaan untuk beristirahat. Penuntun halus bagi mimpi. Pendamping sunyi bagi pikiran yang terlelap.

“Dan proyeksi?” tanya Darlen.

Jari-jari Linda meluncur di permukaan tabletnya. “Fase awal: jika seratus unit terjual, pendapatan mencapai lima ratus ribu lischr.”

Tawa pelan lolos dari bibir Darlen. Tidak keras. Tidak penuh kemenangan. Hanya puas. “Lima ratus ribu...”

Ia menarik napas perlahan, seolah menghirup angka-angka yang dipintal dari emas, lalu tersenyum—lapar, namun terlalu beradab untuk disebut serakah.

“Proyek ini harus berhasil. Tidak boleh ada celah.”

Suara Darlen belum sepenuhnya mereda ketika Liem bersandar sedikit, matanya menyempit—bukan karena curiga, melainkan kewaspadaan.

“Ngomong-ngomong soal celah,” kata Liem sambil merapikan ujung lengan jasnya, “aku harap uji coba manusia sudah benar-benar difinalisasi?”

Ada jeda singkat.

Lalu jawaban Darlen datang—halus, terkendali, tanpa tergesa. “Tentu. Semua parameter telah terpenuhi. Data yang kembali... menjanjikan.”

Liem menatapnya lekat. “Dan keselamatan?”

Darlen menyatukan kedua tangan di belakang punggung, melangkah setengah lingkaran kecil ke tepi ruangan. “Arsitektur Dreem dibangun berlapis-lapis pengaman. Sinkronisasi fisiologis, jangkar memori, durasi terkalibrasi—semuanya diperhitungkan. Simulasi kami lolos dengan hasil sempurna, begitu pula sesi klinis.”

Ia berbalik, menatap Liem dengan kehangatan yang terlatih. “Kau tak perlu khawatir, Liem. Kami tak melangkah maju kecuali benar-benar aman.”

Ada keyakinan dalam suaranya—berbentuk sempurna seperti kebenaran. Namun di balik kilap itu, tersembunyi jauh di balik ambisi yang berkilau di matanya, terbaring keheningan akan sesuatu yang tak terucap.

Sesuatu yang sebaiknya tetap tak terdokumentasi.

Liem menyilangkan kaki, mengangkat pandangan dengan senyum setengah yang tahu. “Kau bermain dengan mimpi, Darlen. Itu hal yang langka—kebanyakan orang bahkan tak mampu memahaminya, apalagi membentuknya. Tapi kau... kau tahu cara memanipulasinya, bahkan mengubahnya menjadi emas.”

Darlen menjawab hanya dengan senyum terlatih itu—dingin, bercahaya, bak mercusuar di tengah kabut.

Namun kemudian suara Liem berubah. Merendah. Personal.

“Putri bungsuku... ia menderita insomnia berbulan-bulan.” Ia berhenti sejenak, menarik napas yang bergetar di ujungnya.

“Ia hampir tak pernah tidur lebih dari satu atau dua jam setiap malam. Obat tidur membuatnya pusing. Terapi gagal. Setiap malam ia terjaga—dalam gelap. Sendirian. Kakaknya tidur nyenyak, bermimpi dengan mudah. Tapi dia?” Ia mengembuskan napas. “Katanya, malam adalah musuhnya.”

Darlen tak berkata apa-apa. Ia hanya memandang Liem, tatapannya sedikit menyempit—seolah yang ia pelajari bukan pria itu, melainkan kisah yang dijahit ke dalam dirinya.

Liem kembali menatap antarmuka Dreem. Dan pada saat itu, perangkat itu tampak bukan lagi sebagai teknologi, melainkan relik purba—terukir oleh kerinduan, dibingkai keputusasaan.

“Jika yang kau katakan benar—jika Dreem benar-benar bisa mengembalikan mimpi pada mereka yang bahkan tak mampu tidur...” Ia menoleh kembali pada Darlen, matanya tajam oleh keyakinan. “Maka aku tak hanya akan berinvestasi. Aku akan membawa yang lain. Rekan-rekan. Pria-pria dengan anak-anak. Istri. Orang-orang tercinta. Semua orang ingin beristirahat dengan tenang. Semua orang—ingin bermimpi.”

Darlen mengangguk perlahan. “Kami akan memastikan mereka bisa.”

Dan dengan itu, janji itu menggantung di udara seperti parfum—sunyi, kuat, tak tergoyahkan. Linda, yang berdiri tak jauh, membiarkan senyum paling tipis terukir di bibirnya. Karena kini ia pun melihat, apa sesungguhnya Dreem telah menjadi.

Bukan sekadar sebuah perangkat—melainkan sebuah simbol mahakarya.