Nightmare Revolver — Bab 1
Bab 1

一═デ︻
Simfoni Mekanis

Di tengah simfoni mekanis yang tak pernah benar-benar terdiam, sebuah laboratorium raksasa berdenyut mengikuti irama mesin-mesin, desis alat solder, dan ketukan cepat jemari yang menari di atas panel kendali. Cahaya biru pucat keputihan mengalir dari langit-langit tinggi, menembus kabut partikel logam yang melayang di udara—memberi kesan bukan sebagai tempat bagi manusia, melainkan sebuah rahim dingin, tempat keajaiban teknologi yang belum teruji menanti kelahirannya.

Puluhan teknisi berseragam putih bersih bergerak dengan presisi nyaris tanpa suara. Masing-masing tenggelam sepenuhnya dalam tugasnya, hingga tampak lebih seperti perpanjangan dari mesin-mesin di sekeliling mereka daripada individu yang berdiri sendiri. Di balik kaca pelindung helm mereka, mata-mata menyipit penuh konsentrasi, merangkai mimpi menjadi inovasi melalui ketelitian berskala mikroskopis.

Di hadapan sebuah konsol holografik, dua sosok berdiri berdampingan. Tangan mereka mantap melayang di atas meja kerja transparan, tempat sebuah nanochip tunggal terpasang pada papan sirkuit khusus. Sekilas, benda itu tampak tak berbahaya—bahkan nyaris remeh. Namun tersembunyi di dalam rangka halusnya terdapat kemampuan untuk menafsirkan gelombang otak, ritme napas, tempo jantung, hingga pola etereal dari mimpi manusia.

“Menurutmu... apakah ini akan berhasil?” tanya salah satu dari mereka, suaranya rendah dan datar, meski seutas keraguan samar melekat di nadanya. Ia tak mengalihkan pandangan dari layar.

Rekannya hanya mengangguk kecil, disertai senyum tipis yang rapuh—gerak yang lahir bukan dari keyakinan penuh, melainkan dari keinginan untuk percaya.

“Kurasa... akan,” jawabnya lirih, nyaris tak terdengar di atas dengung mesin-mesin.

“Kita sedang mengutak-atik sistem paling rapuh dalam tubuh manusia,” lanjut yang pertama, matanya terpaku pada grafik aktivitas saraf yang berkelip. “Risikonya luar biasa besar.”

“Aku tahu...” bisik teknisi kedua. Ia terdiam, lalu meraih sebuah dokumen di atas meja—laporan awal tentang kemampuan mekanisme itu dalam oneirokinesis. Daftar efek sampingnya kelam dan tanpa ampun: distorsi ingatan, tekanan neurologis, teror malam berkepanjangan. Ia membaca setiap baris dengan perlahan, alisnya berkerut, napasnya terasa berat di dada.

Dengan langkah tertahan, pria dari Negeri Matahari Terbit itu berjalan ke ujung laboratorium, tempat seorang bertubuh kekar bersantai di depan layar komputer, menyeruput kopi panas dengan headset menutup telinganya. Musik bergema pelan dari dalamnya, membuat pria itu tampak terputus dari dunia sekitarnya.

“Berkin,” panggil sang teknisi dengan lembut.

Tak ada jawaban.

“Berkin!” ulangnya, kali ini lebih keras.

Masih tanpa respons, ia meraih bahu Berkin, menyingkirkan salah satu sisi headsetnya. “Berkin, aku perlu bicara denganmu.”

Berkin mendongak, terkejut, lalu tersenyum lebar. “Ah, Yoshi! Ada apa, temanku?” katanya ceria sambil mengangkat cangkir kopinya.

Yoshi menatapnya serius. “Berkin, um... sejujurnya aku agak khawatir. Kamu dan timmu benar-benar yakin dengan desain akhir nanochip ini?”

Berkin terkekeh pelan, lalu menyesap kopinya lagi, seolah pertanyaan itu menghiburnya. “Kenapa kau bertanya begitu? Tentu saja. Chip ini sudah melewati ratusan simulasi.”

“Aku serius...” desak Yoshi. “Fabrikasinya hampir selesai. Uji coba pada otak manusia sudah di depan mata.”

Berkin mengangkat alis, lalu mengangkat bahu. “Lalu? Bukankah itu memang tujuan akhirnya sejak awal?”

“Ini bukan sekadar data dan desain,” gumam Yoshi, suaranya sarat urgensi. “Kalau terjadi kesalahan... itu bisa menghancurkan pikiran orang yang memakainya.”

Sejenak, Berkin terdiam. Lalu ia berdiri dan melangkah menuju proyeksi antarmuka saraf yang dikenakan di telinga—Dreem—masih dengan kopi di tangannya. “Dengarkan, Yoshi. Tak ada penemuan besar yang lahir tanpa bahaya. Kita bukan membuat mainan—kita sedang membentuk sejarah.”

Yoshi mengikutinya, frustrasi menggelegak dalam diam, namun ia menahan nadanya tetap rendah.

Berkin menunjuk garis samar tempat nanochip akan ditanamkan. “Kami, di Oneirologic Research Unit, telah mengantisipasi kemungkinan overdrive—risiko di mana subjek mengaburkan batas antara mimpi dan realitas. Semua protokol telah diuji. Berulang kali. Tanpa kompromi.”

“Tapi ini menyangkut manusia, Berkin, bukan sekadar subjek uji,” bisik Yoshi. “Apa kau benar-benar peduli pada keselamatan mereka?”

Berkin menoleh sedikit, cukup untuk menatap mata Yoshi. Nadanya tetap tenang, namun mengeras oleh keyakinan. “Tentu saja. Kita semua peduli. Kau pikir kami membangun ini dengan kebutaan? Setiap parameter telah dipelajari. Setiap batas diperhitungkan. Risiko tak pernah nol, Yoshi—tapi kami telah melakukan segalanya untuk menekannya mendekati nihil.”

Yoshi tak menjawab.

Berkin menghabiskan sisa kopinya, meletakkan cangkir kosong, lalu memberi isyarat agar Yoshi mengikutinya. “Ayo. Akan kutunjukkan.”

Mereka menyusuri koridor yang berdengung oleh mesin-mesin jauh, hingga tiba di sebuah bagian laboratorium yang tersegel. Dinding kaca berkilau oleh cahaya biru lembut dari kunci biometrik. Berkin menempelkan tangannya pada pemindai. Pintu terbuka dengan desahan pelan.

Di dalam, seorang pria mendongak dari konsol. Sedikit lebih tua, berkacamata, wajahnya dipahat oleh ketelitian, bukan usia.

“Franklin,” sapa Berkin. “Ada waktu sebentar?”

Franklin berdiri tegak. “Tentu. Ada apa?”

“Kami sedang mengecek kesiapan uji coba langsung Dreem,” jawab Berkin lancar. “Yoshi punya beberapa kekhawatiran. Kupikir sebaiknya ia mendengarnya langsung darimu.”

Franklin mengangguk kecil, lalu berjalan ke meja yang dipenuhi dokumen dan pad digital.

“Semuanya sudah siap. Protokol keselamatan, pemeriksaan latensi saraf, ambang biomonitoring, pelacakan stabilitas psikologis—tak satu pun langkah dilewati.”

Ia membuka sebuah map dan membentangkan isinya.

“Ini daftar pengujian: latensi integrasi, modulasi kondisi mimpi, retensi memori residual... dan ini—” ia mengetuk berkas kedua, “—laporan medis subjek terpilih. Semua lolos. Tak ada tanda bahaya.”

Yoshi melangkah mendekat. Jemarinya menelusuri kertas-kertas itu—hingga pandangannya membeku pada satu nama.

Raviel Imanta.

Napasnya tercekat.

Berkin menyadarinya.

“Temanmu?” tanyanya santai.

Yoshi tak menjawab. Ia tak mampu. Pertanyaan itu sendiri membuat udara terasa lebih berat.

Berkin tersenyum tipis. “Sepertinya temanku ini sudah yakin sekarang.” Ia menepuk punggung Yoshi—lembut namun final. “Tenanglah. Semuanya berjalan sesuai rencana.”

Namun Yoshi tak merasa tenang.

Bahkan ketika Franklin terus memaparkan protokol dan data dengan keyakinan mekanis, dan Berkin memancarkan kepastian dalam setiap geraknya, sebuah beban dingin menetap di bawah tulang rusuk Yoshi.

Karena sebersih apa pun laboratorium itu tampak... Raviel bukan lagi sekadar nama di atas berkas.

Ia adalah seseorang yang tertawa bersamanya. Yang ia percayai.

Dan kini... ia adalah subjek uji.


Yoshi duduk sendiri di salah satu bangku di sudut halaman yang sunyi, berkas itu masih terbuka di tangannya. Nama “Raviel” menatapnya dari halaman yang mulai menguning—menghantui dengan keakrabannya. Di sekelilingnya, obrolan rekan-rekan yang sedang beristirahat terdengar jauh, seperti dunia lain yang tak tersentuh, tak nyata.

Ia mengembuskan napas.

Mimpi...

Tangannya merogoh saku, mengambil ponselnya. Beberapa sentuhan kemudian, layar menyala menampilkan sebuah foto—yang tak pernah sanggup ia hapus. Dirinya dan Raviel, tertawa di bawah matahari musim panas yang telah lama berlalu. Bebas. Tanpa beban.

Ia menatap gambar itu sejenak, ekspresinya tak terbaca. Badai sunyi bergolak di balik matanya.

“Raviel...”

Nama itu melayang di benaknya, seperti doa.

Apa yang membuatmu menerima tawaran itu?

Hening. Ia mengunci layar dengan helaan napas berat.

Sebuah sistem yang bisa memanipulasi mimpi...

Ia bukan tipe orang yang mampu berpura-pura setuju—tak peduli seberapa memukau janji-janjinya terdengar.

Tidak. Ini tak mungkin benar... atau barangkali, tak mungkin aman.

Ia menggeleng pelan.

Mimpi tak diciptakan untuk diubah. Mimpi ada untuk dirasakan—dihidupi—bahkan yang paling buruk sekalipun. Karena pada akhirnya, mimpi tak pernah dimaksudkan untuk melukai. Namun mengutak-atiknya... hanya akan mengundang sesuatu yang jauh lebih berbahaya.

Pandangan Yoshi merendah, dibayangi kegelisahan. Apa pun sebenarnya “sistem” ini, satu hal ia ketahui dengan pasti:

Ia tidak lahir dari pemahaman—melainkan dari ketakutan.